Melangkah

Di belakangku terdengar canda dan tawa yang sudah kukenal dengan dekat dan terasa nyaman, juga amarah dan tangisan yang meskipun terasa sakit sekarang menjadi pembelajaran tak terlupakan. Sulit rasanya lepas dari itu semua.

Hari ini, garis itu membentang di hadapanku. Aku tahu, setelah aku melewati garis itu, mungkin keadaan akan berbeda dengan biasanya. Semua masih abu-abu, bisa menjadi putih bisa juga menjadi hitam, bergantung pada bagaimana kita menjalaninya.

 
Bimbang?
 
Ragu?
 
Cemas?
 
Takut?
 
Sudahlah, aku sudah melangkah.

Life

Life = Kehidupan.

Sudahkah kita memaknainya? Atau selama ini kita cuma menjalaninya tanpa tujuan? Hanya mengikuti arus yang ada di sekitar kita, semua orang sekolah kita ikut, semua orang kuliah kita ikut, semua orang kerja kita ikut, semua orang bisnis kita ikut. Sehari-hari tidur-bangun-mikirinperut-tidurlagi-bangunlagi-dst.
 
Orang-orang sering bilang “Tujuan hidup kita ini kan ga lain ga bukan semata-mata beribadah kepada Allah SWT.” Oke deal, setuju. Tapi itu masih terlalu general. Di luar ibadah wajib yang semua orang lakukan, aku yakin masih ada ibadah lain yang harus kita lakukan dan berbeda dengan orang lain. Aku masih yakin dengan teori ”Takdir Unik” Setiap orang punya fungsi masing-masing di dunia ini. Toh jutaan individu yang ada di dunia ini lahir sebagai pribadi yang unik kan?
 
Pernah ga sih kepikiran, “Seandainya Thomas Alva Edison gapernah lahir, dunia bakal gimana ya?” Ya emang ada probabilitas orang lain yang akan menemukan lampu, tapi sekarang anggap saja teori “Takdir Unik” benar, gaada orang lain yang bisa nemuin lampu, dunia sekarang pasti masih gelap gulita.
 
Ya, berguna bagi kehidupan masyarakat banyak, sampe ratusan bahkan ribuan tahun kemudian dampaknya masih kerasa. Itu ibadah impianku.
 
Sampe sekarang aku masih suka berpikir, apa sih sebenernya tujuan aku dilahirkan di dunia ini? Aku yakin aku punya takdir unik itu, tapi aku masih belum tau jawaban dari satu pertanyaan.
 
"Seandainya aku tak pernah dilahirkan, dunia kehilangan apa?"

Monolog

Aku melangkah
Dengan segenggam api di tanganku
Aku percaya
Langkah ini akan mengubah apiku menjadi matahari
Aku terus melangkah, aku ingin segera tiba!

—-

Apiku hampir padam! Tapi aku belum sampai di sana, tempat cahaya menungguku
Aku takut disini, gelap
Aku putuskan untuk berhenti melangkah sejenak, lagipula aku lelah terus melangkah
Aku melihat sekelilingku, berharap menemukan tempat berbagi api

Aku sendiri.